Sahabat investor,
Di luar gegap gempita window dressing yang menandai tiap tutup tahun, di pasar modal Indonesia, ada beberapa katalis lain yang boleh jadi akan ikut memeriahkan kegembiraan akhir tahun:
Pertama, turunnya harga minyak bumi. Selama November harga minyak bumi telah turun 22%. Light crude berada di sekitar $ 50 per barrel. Nampaknya akan bertahan cukup lama, sampai AS, Rusia dan Saudi mengurangi produksinya secara signifikan, atau terjadi kejutan dalam laju pertumbuhan ekonomi global. Hantu defisit neraca perdagangan dan pelemahan rupiah, napaknya sudah menjadi jinak
Kedua, rupiah telah menguat 6% selama November dan kembali mendekati tingkat asumsi APBN. Walau harga komoditas banyak yang tergelincir bersama minyak bumi, besar peluang defisit transaksi berjalan akan membaik di 4Q18 dan rupiah lebih stabil.
Ketiga, asing sudah masuk kembali ke pasar saham. Selama November tercatat net buy sekitar $ 700 juta (Rp 12 triliun) . Surat utang negara pun memancarkan daya tariknya kembali. Yield SUN 10 tahun telah turun dari puncaknya 8,8% bulan Oktober lalu ke 7,9% pada tutup perdagangan bulan November. Selama November, aliran dana asing masuk melalui SBN mencapai Rp 34 triliun
Keempat, perang dagang mulai melunak. Selain “kelelahan” presiden Trump mungkin tak lagi terlalu bebas sesenaknya, setelah House didominasi oleh Demokrat. Mengutip Bloomberg, dalam makan malam menjelang penutupan G-20, presiden Trump dan presiden Xi sepakat untuk tidak menambah tarif baru mulai 1 Januari 2019. Selain itu, ada “genjatan senjata” 90 hari sebelum AS efektif menaikkan tarif dari 10% menjadi 25%
Kelima, government spending akhir tahun. Kalau saya tak salah membaca gaya kepemimpinan Jokowi, saya menduga menjelang pemilu, pengeluaran pemerintah akan digenjot. Tidak terbatas untuk kegiatan populis, tapi juga untuk belanja modal
Siap memborong belanjaan?
Oleh
Hasan Zein Mahmud

Posting Komentar